Pages

Kamis, 30 April 2015

Peluang Bisnis Penggemukan Sapi Potong pola HCS


Print

Pusing setelah pensiun dan ingin memulai usaha? Atau tertantang ingin mencoba usaha baru? Jika jawabannya iya, maka usaha penggemukan sapi potong tidak ada salahnya Anda coba.
Secara umum, ada 3 cabang usaha budi daya sapi potong yang dapat Anda pilih, yaitu pembibitan, penggemukan, atau kombinasi keduanya. Baik usaha pembibitan maupun penggemukan, keduanya sama-sama memiliki peluang besar dan tantangan tersendiri jika dikembangkan. Namun pada kesempatan kali ini, kita akan kupas terlebih dahulu usaha penggemukan sapi potong.
Penggemukan Sapi, Berpeluang Besar di Tanah Air
Kegiatan usaha penggemukan sapi potong dimulai dari membeli sapi bakalan jantan berumur 2-2,5 tahun untuk digemukkan selama 3-4 bulan, kemudian dijual kembali. Berbeda dengan usaha pembibitan, dimana kegiatannya dimulai dengan memelihara sapi induk hingga dewasa dan menghasilkan pedet/bibit-bibit baru sapi bakalan untuk digemukkan.
Dengan demikian, perputaran modal pada usaha penggemukan akan jauh lebih cepat dibanding usaha pembibitan. Bayangkan, hanya dalam waktu 3-4 bulan, peternak sudah bisa menjual sapi potong-nya kembali dan mendapatkan keuntungan. Terutama, jika dijual pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, keuntungannya bisa lebih besar lagi.
Belum lagi dengan besarnya keuntungan yang akan diperoleh peternak jika dapat menggemukan sapi dengan pemberian pakan yang lebih efisien. Contohnya dengan memberi pakan berupa konsentrat dan limbah pertanian, peternak dapat menghemat biaya pakan. Di samping itu, penjualan kotoran sapi sebagai pupuk kompos dapat memberikan keuntungan tambahan.
Di sisi lain, usaha penggemukan sapi potong nampaknya akan terus mempunyai peluang yang baik. Hingga saat ini pasar daging sapi Indonesia masih terus kekurangan pasokan. Dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat, Indonesia memiliki tingkat konsumsi daging sapi yang tinggi. Permintaan ini meningkat menjelang hari raya.
Menurut Kementerian Pertanian, kebutuhan daging nasional pada tahun 2014 diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 6% dari yang semula 549.000 ton di tahun 2013. Dari jumlah tersebut, hanya 80% yang dapat dipenuhi produksi dalam negeri, sementara sisanya dipenuhi dari impor.
Untuk mencapai kemandirian daging sapi, pemerintah telah mencanangkan program swasembada daging sapi. Program ini awalnya ditargetkan pada tahun 2010. Namun, diundur menjadi tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah sapi potong dalam negeri belum dapat memenuhi 90% kebutuhan konsumsi masyarakat. Itu artinya, usaha budi daya sapi potong, termasuk unit usaha penggemukannya memiliki peluang besar di tanah air.

Kendala Usaha Penggemukan Sapi

Meski usaha penggemukan sapi memiliki peluang besar, bukan berarti usaha ini akan bebas melenggang tanpa masalah. Sekelumit masalah yang biasanya muncul antara lain:
  • Butuh modal besar di awal pemeliharaan untuk membeli sapi bakalan.
  • Sulit memperoleh bakalan sapi berkualitas.
  • Harga daging sapi potong di pasaran normal tidak sebanding dengan biaya pakan yang dikeluarkan.
  • Kenaikan bobot badan sapi tidak optimal akibat serangan penyakit atau kekurangan nutrisi pakan.
  • Sulitnya pemasaran sapi potong bagi peternak pemula.

Solusi Terhadap Masalah yang Dihadapi

  • Untuk menambah modal pembelian sapi bakalan, tidak ada salahnya jika kita mengajukan kredit investasi atau pinjaman ke bank.
  • Beli bakalan sapi yang memiliki data recording baik, atau dari peternak yang berpengalaman dan terpercaya.
  • Pilih jenis sapi bakalan yang sesuai dengan kondisi lingkungan tempat usaha kita (memiliki daya adaptasi yang baik) dan memiliki sejarah mampu menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi.
  • Manfaatkan limbah pertanian dan perkebunan untuk mengefisienkan biaya pakan. Perlu diketahui bahwa keberhasilan usaha penggemukan sapi potong sangat ditentukan oleh pakan. Tidak jarang kita harus memberikan pakan konsentrat (bernutrisi tinggi) lebih banyak dibanding pakan hijauan untuk mengejar pertambahan berat badan yang tinggi dalam waktu singkat. Jika konsentrat yang digunakan masih bergantung 100% pada konsentrat pabrikan, otomatis kita harus mengeluarkan biaya pakan lebih tinggi. Itu artinya, biaya produksi secara keseluruhan pun akan ikut meningkat.
  • Atasi serangan penyakit dengan memberikan obat-obatan yang sesuai. Penyakit yang masih sering menyerang sapi potong dewasa ialah cacingan. Untuk itu, berikan anthelmintik (obat cacing) saat sapi terserang cacingan, atau berikan secara berkala setiap 3-4 bulan sekali guna membasmi cacing yang sebelumnya sudah berada di dalam tubuh sapi. Beberapa produk anthelmintik Medion yang dapat digunakan untuk memberantas cacing gilig pada sapi yaitu Nemasol-KVermizyn SBKWormectin Injeksi dan Wormzol-B. Produk Wormzol-B selain efektif untuk semua stadium cacing gilig, dapat juga digunakan untuk memberantas cacing pita dan cacing hati dewasa pada sapi.
  • Berikan suplemen seperti molases, Mineral Feed Supplement S untuk membantu meningkatkan nafsu makan (konsumsi) serta menyediakan kebutuhan nutrisi mikro bagi sapi potong. Bisa diberikan pula vitamin seperti Injeksi Vitamin B Kompleks dan Vita B Plex Bolus untuk memperbaiki produktivitas. Dengan penambahan berbagai suplemen tersebut diharapkan pertambahan bobot badan sapi potong bisa lebih optimal.
  • Dalam strategi pemasaran, pilih lokasi penggemuk-an yang dekat dengan daerah konsumen (pasar). Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah melakukan distribusi, sehingga penyusutan bobot badan selama transportasi menuju pusat konsumen dapat diperkecil, biaya pengangkutan relatif murah, serta efisiensi waktu.
  • Ketika sapi sudah berhasil digemukkan, perlu dipertimbangkan apakah sapi potong akan dijual dalam kondisi hidup atau sudah dalam bentuk karkas. Jika dalam bentuk karkas, maka sebelumnya peternak harus menjalin kerjasama dengan unit (rumah potong hewan) terdekat dan sudah memiliki konsumen tetap/kontak pembelian, baik dengan pasar tradisional maupun pasar swalayan. Namun jika sapi akan dipasarkan dalam kondisi hidup, maka peternak bisa menjualnya ke pasar hewan. Namun penting bagi peternak untuk mengetahui tata niaga ternak sapi yang berlaku di berbagai wilayah, termasuk trik untuk mengurangi risiko kerugian pada saat melakukan transaksi di pasar hewan.

Kunci Sukses Budi Daya Sapi
Setelah mengetahui apa saja kendala yang akan dihadapi ketika memulai usaha penggemukan sapi potong, serta solusi mengatasi kendala tersebut, berikut kami berikan kiat-kiat bagi para calon peternak yang ingin memulai usaha penggemukan sapi:
  • Cari informasi awal sebelum beternak
    Sebaiknya calon peternak memiliki pengetahuan mengenai teknik memelihara sapi. Pengetahuan akan pasar juga penting agar peternak tidak tertipu dalam memasarkan sapi yang berhasil digemuk-kan. Informasi ini dapat diperoleh dari buku maupun artikel-artikel di majalah dan internet. Berkonsultasi dengan ahli peternakan juga menjadi alternatif yang baik untuk menggali informasi. Selain itu, saat ini juga banyak seminar maupun pelatihan yang berkaitan dengan teknis beternak.
  • Mau memulai dari skala kecil
    Tidak ada usaha yang langsung besar ketika baru dimulai. Setiap usaha dirintis dari skala kecil yang kemudian menjadi besar dengan ketekunan dan kerja keras. Modal yang besar di awal usaha bukanlah jaminan suatu usaha akan sukses. Usaha penggemukan sapi potong sendiri dapat dimulai dari kecil dengan jumlah sapi 2-4 ekor.
  • Memulai pada waktu yang tepat
    Saat yang baik untuk membeli sapi bakalan adalah menjelang hari raya Idul Fitri. Pada saat itu banyak peternak menjual sapi mereka untuk biaya merayakan Lebaran. Sapi pun bisa didapat dengan harga yang lebih murah. Sekitar 4 bulan kemudian ketika hari raya Idul Adha tiba, sapi yang telah dewasa dapat dijual kembali dengan harga berlipat. Namun, sebenarnya untuk penggemukan sapi dapat dimulai kapan saja karena masyarakat akan selalu membutuhkan daging sapi.
  • Mengembangkan usaha dari keuntungan
    Sisihkan sebagian keuntungan yang didapat untuk membeli sapi tambahan. Jika perlu, gunakan seluruh keuntungan yang didapat. Saat populasi sapi yang dimiliki sudah cukup besar, peternak dapat menikmati keuntungan yang diperolehnya. Meski memang dalam berbisnis, mental perlu dipersiapkan untuk menghadapi adanya kerugian. Terlebih lagi dalam usaha budidaya sapi, sapi bisa saja mati karena stres maupun penyakit.
  • Mencatat setiap kegiatan
    Pencatatan yang dilakukan meliputi semua kegiatan di peternakan, seperti jumlah pakan sapi dan peningkatan bobot dari bulan ke bulan. Pertambahan populasi, penjualan sapi, jumlah sapi yang sakit maupun mati, serta obat dan suplemen yang diberikan juga perlu dicatat. Ini penting untuk mengetahuitrack record kesehatan ternak terutama ketika terjadi serangan penyakit. Selain itu, pencatatan keuangan juga penting dilakukan agar besarnya modal dan keuntungan dapat diketahui secara pasti. Dengan demikian, dapat diketahui dengan jelas berapa dana yang harus dialokasikan untuk periode berikutnya.
  • Bergabung dengan kelompok ternak sapi
    Kelompok ternak dibentuk oleh peternak-peternak dengan bidang usaha sama. Dengan bergabung dalam kelompok ini, peternak dapat memperoleh banyak manfaat, seperti kemudahan mendapatkan modal berbunga rendah, memperoleh kredit dari bank, serta sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman.
  • Jangan ragu memulai pembibitan
    Banyak peternak yang enggan memulai usaha pembibitan sapi. Padahal permintaan yang tinggi akan sapi bakalan hingga saat ini belum dapat dipenuhi seluruhnya oleh usaha pembibitan sapi potong dalam negeri. Hal ini tercermin pada impor sapi bakalan yang semakin besar, serta harga sapi bakalan di dalam negeri yang semakin tinggi. Untuk itu, jangan ragu memulai usaha pembibitan sapi potong karena peluangnya juga sangat besar.

Analisis Usaha Penggemukan Sapi Potong

Untuk memberikan gambaran bagi calon peternak mengenai usaha penggemukan sapi potong, berikut kami tampilkan contoh analisis usahanya.
Asumsi yang digunakan dalam analisis ini antara lain:
  • Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya
  • Sapi bakalan yang dipelihara: 10 ekor sapi PO
  • Harga sapi bakalan: Rp 8.000.000,-/ekor
  • Bobot badan awal sapi bakalan: 250 kg/ekor
  • Sapi dipelihara selama 4 bulan dengan pertambahan bobot badan (PBB) sekitar 0,8 kg/ekor/hari, sehingga:
PBB selama 4 bulan = 0,8 kg x 120 hari
= 96 kg/ekor
Bobot akhir sapi = 250 kg + 96 kg
= 346 kg
Bobot seluruh sapi = 346 kg x 10 ekor
= 3.460 kg
Hasil penjualan sapi = 3.460 kg x Rp. 40.000/kg bobot hidup sapi
= Rp. 138.400.000
  • Luas kandang: 45 m2
  • Biaya pembuatan kandang: Rp 400.000/m2
  • Penyusutan kandang 20% per tahun (dengan demikian penyusutan untuk satu periode ± 7%)
  • Gaji tenaga kerja (2 orang): Rp 500.000,-/bulan
  • Biaya listrik: Rp. 180.000
  • Biaya air: Rp. 225.000
  • Biaya peralatan: Rp 500.000,-/tahun, sehingga untuk satu periode Rp 170.000
  • Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 5.000 kg dengan harga Rp 300,-/kg
  • Biaya pakan untuk satu periode:
  • Hijauan : 40 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 100
  • Konsentrat : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 1.500
  • Suplemen pakan : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 200
  • Biaya vitamin B kompleks (1 kali pemberian selama periode pemeliharaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh): Rp. 13.000 untuk 10 ekor sapi
  • Biaya obat cacing (1 kali pemberian selama periode pemeliharaan sebagai upaya mencegah cacingan): Rp. 50.000 untuk 10 ekor sapi
Dari hasil uraian perhitungan di atas, diperoleh nilai rasio pendapatan : biaya = 1,22. Ini artinya dalam satu periode penggemukan, dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 122. Selain itu, dari perhitungan di atas juga dapat diketahui nilai titik impas (Break Even Point/BEP) nya, yaitu:
1) BEP harga = total biaya : berat sapi total
= Rp. 114.898.000 : 3.460 kg
= Rp. 33.208/kg
2) BEP produksi = total biaya : harga jual sapi (per kg)
= Rp. 114.898.000 : Rp. 40.000
= 2.873 kg
Dari nilai BEP dapat disimpulkan bahwa usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 10 ekor sapi mencapai bobot badan 2.873 kg atau harga jual Rp 33.208/kg.

Demikian kilas informasi mengenai peluang bisnis penggemukan sapi potong yang kami berikan. Selain informasi di atas, sebenarnya masih banyak lagi kiat-kiat yang dapat kita pelajari terkait usaha penggemukan sapi potong ini. Intinya kita harus yakin bahwa berapapun jumlah sapi yang nantinya kita gemukkan, berapapun banyak saingan kita, sapi dipastikan tetap akan laku terjual. Dengan melihat peluang yang masih terbuka lebar tersebut, siapapun dapat memulai usaha ini, asalkan ada kemauan, kemampuan, serta memiliki fasilitas penunjang. Bagaimana? Anda berminat jadi peternak sapi potong?

PROSPEK CERAH MENANAM JAHE MERAH

TANAM JAHE…KEUNTUNGAN TIDAK SEPELE…!!!

Memilih tanaman budidaya yang tepat memang sangat berpengaruh pada hasil dan keuntungan yang akan didapat, namun jika terlalu lama memilih tanaman yang tepat maka keuntungan yang diharap akan terlewat karena musim, dan harga biasanya berkaitan, dimana musim yang kurang mendukung harga komoditi tertentu mencapai harga tertinggi, dan sebaliknya saat musim baik dan banyak orang berbudidaya biasanya hargapun juga turun hal ini sesuai dengan hukum ekonomi.
Untuk mencegah hal itu terjadi, maka Petani tak perlu tunggu musim atau rame- rame menanam, sehingga tidak lagi terjadi “panen massal”, dengan demikian tak perlu terjadi penurunan harga dikarenakan terlalu banyak stok dan menurunnya jumlah permintaan.    

Kita tentukan saja pilihan kali ini pada tanaman Jahe Merah. Tanaman ini tak terlalu sulit dalam dibudidayakan. Cukup di sela-sela tanaman pokok (sengon, kopi, atau tanaman buah-buahan ), Media tanam bisa menggunakan Karung/Glangsing/Polybag yang telah diisi Bokashi dan tanah.
 
Dengan perawatan sangat sederhana yakni pemupukan berkala dengan Bokashi dan SOT HCS yang dikocorkan maupun disemprot pada bibit yang ditanam, penyemprotan dan pengocoran SOT hanya perlu dilakukan 2 minggu sekali dan penambahan Bokashi dilakukan seiring pertumbuhan tunas sampai Polybag sampa terisi dengan ketinggian 80%. Setelah Polybag terisi Tanah dan Bokashi, maka yang dilakukan tinggal perawatan sampai panen, antara 10 – 12 bulan.

Dan seandainya semua mau bergerak memanfaatkan tanah kosong , di pot-pot, polybag, atau pekarangan kita yang tersisa, meskipun tak begitu luas seperti program Pemerintah yang menggalakkan ‘Apotik Hidup’, maka kampung tempat kita tinggalpun akan mampu swasembada Jahe, bahkan tak menutup kemungkinan menembus pasar dunia.



 PEMBIBITAN : 
Untuk bibit jahe yang sudah siap tanam / atau yang sudah bertunas skitar 5-10 cm, namun jika susah memperoleh bibit tunas kita bisa menyemai sendiri bibit jahe yang akan ditanam. Ada beberapa teknik penyemaian. Disini saya bahas salah satunya saja yaitu penyemaian jahe dalam kotak kayu. 
Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya sebelum disemai bibit harus dibebaskan dari virus penyakit dengan cara potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung  lalu dicelupkan dalam larutan PHEFOC HCS selama 5 menit lalu keringkan.
Rendam kembali dengan zat pengatur tumbuh SOT HCS sekitar 4 jam.Setelah perendaman lalu tiriskan sampe kering, benih telah siap disemaikan. 


PENANAMAN
Ambil rimpang jahe dari penyemaian kemudian patah-patahkan dengan tangan rimpang jahe tersebut menjadi 2 - 3 ruas, dimana 1 ruasnya terdapat minimal 2 mata tunas.  
Lalu buat campuran antara tanah dan bokashi dengan perbandingan 3:1 . Masukkan campuran tanah dan bokashi ke dalam karung/polibag/keranjang dengan ketinggian sekitar 15cm , jika menggunakan media karung sesuaikan terlebih dahulu tinggi karung dengan cara menekuk bagian atas karung seperti gambar paling atas agar ketinggian sesuai, kemudian masukan tunas bibit jahenya, ( satu karung bisa diisi sekitar 2-3 titik tanam  untuk hasil yang maksimal) 

Setelah selesai penanaman keseluruhan siram dengan air . Selama sekitar seminggu lakukan penyiraman rutin pagi dan sore agar tunas tidak layu/ kering. 


PERAWATAN / PEMUPUKAN 

Sirami tiap hari minimal sehari sekali, tapi jika cuaca panas atau musim kemarau sebaiknya siram 2 x sehari.
Sekitar usia 2-4 minggu lakukan pengocoran dengan fermentasi SOT HCS. 


Lakukan pengurukan kembali dengan tanah + bokashi (3:1) pada usia 2-3 bulan atau jika terlihat rimpang jahe yang menyembul keluar timbun/uruk sekitar 10cm.
Lakukan pengurukan ini berulang-ulang seiring pertumbuhan jahe hingga usia sekitar 8 bulan atau sampai karung /polibeg / keranjang terisi penuh dengan tanah urukan.
 

Dengan teknik pengurukan seperti ini kita akan mendapatkan hasil yang lumayan melimpah, karung /polibag/keranjang kita akan terisi penuh dengan rimpang jahe.
bahkan ada salah satu mitra HCS yang panen jahe satu karung/polibag/keranjang berisi 20kg jahe wooww....dahsyat bukan...???. 


Jika langkah-langkah diatas sudah kita lalui selama 8-10 bulan, sudah saatnya jahe kita siap dipanen. 
 

 

GAJIAN TIAP BULAN. 
Banyak orang beranggapan "bertani itu tidak bisa memberi penghasilan tiap bulannya", Bertani hanya memberi penghasilan pas pada waktu panen saja. Menurut saya anggapan ini 100% salah, buang jauh2  tuh anggapan seperti itu.
Bagaimana cara mempunyai penghasilan tiap bulannya dari bertani disini kita akan membahasnya. 
Ya salah satunya dengan cara menanam jahe dengan media karung/glangsing/polybag.

Caranya tiap bulannya musti tanam jahe,...misal saja 20-40 polybag/karung. Contoh misal bulan Januari minggu awal menanam 40 polybag/karung jahe, maka bulan Februari di minggu awal berikutnya menanam lagi 40 polybag/karung, begitu juga bulan maret dan bulan-bulan berikutnya. 

Kalau tanam terus kapan panennya...he...he..??
Biasanya jahe sudah bisa dipanen di usia 10-12 bulan, lebih baik kwalitasnya jika panen di usia 12 bulan saja supaya jahe matang tua sempurna. Jadi untuk jahe yang kita tanam di bulan Januari  panennya di bulan November awal, bulan Februari panen di bulan Desember, Maret panen di January, begitu seterusnya sehingga mulai bulan November sampai kedepan kita akan mempunyai penghasilan tiap bulannya dari hasil bertani.
Untuk skema tanam dan waktu panen bisa dilihat dari tabel di bawah ini.

Waktu Tanam
Jumlah Tanam
Waktu Panen
January
40 karung
November
February
40 Karung
Desember
Maret
40 Karung
January
April
40 karung
February
Mei
40 karung
Maret
Juny
40 karung
April
July
40 karung
Mey
agustus
40 karung
Juny
September
40 karung
July
Oktober
40 karung
Agustus
November
40 karung
September
Desember
40 karung
Oktober

Hitung-hitunganya gimana? berapa rupiah yang kemungkinan bisa kita hasilkan tiap bulan.

Modal Tiap bulannya :

Bibit jahe 40 rimpang x Rp.1.000,-     Rp.40.000 === > ( sekitar 1,5 - 2 kg jahe )

Polibag/karung 40 x Rp 5000             Rp.200.000

Pupuk SOT dan Phefoc                        Rp.70.000
TOTAL                                             Rp.310.000,- 

Hasil tiap bulannya : 

Tanam jahe media karung dengan pola HCS bisa menghasilkan 10-20 kg tiap polibag/karungnya. Tapi disini kita ambil contoh hasil terendah saja misalkan saja 1 polybag/karung menghasilkan 5 kg jahe dan harga jual per kilo jahe Rp.15.000.

Maka :   40 karung x 5 kg                 200kg

               200kg x Rp.15.000           
Rp.3.000.000

Jadi bisa kita ketahui nantinya mulai bulan november sampai terus kedepan kita akan mendapat penghasilan kotor Rp. 3.000.000. hasil ini bisa lebih jika hasil panen kita bisa maksimal dan harga jual jahe naik.

Jika Anda ingin berpenghasilan lebih besar lagi tentu tinggal menambah jumlah karung/Polybag tanaman jahe agar sesuai yang Anda kehendaki, misalnya perbulan menanam 100 karung/polybag. 

Semoga saja artikel ini bermanfaat. 

Bagaimana..Siap Menerima Tantangan…???
GO….SUCCESS…!!!