Pages

Sabtu, 05 Juli 2014

Penyakit bulai




Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gejala klinis penyakit bulai pada jagung umur 4 minggu.

Penyakit bulai (bahasa Inggris: downy mildew) adalah gejala dari serangan Oomycetes dari suku Sclerosporaceae, khususnya marga Peronosclerospora (sinonim Sclerospora), yang ditemukan pada berbagai anggota rumput-rumputan (Poaceae). Jagung, sorgum, tebu, padi, gandum, dan jelai semua mengalami serangan dari kelompok protista ini. Penyakit bulai (downy mildew) nerupakan salah satu faktor pem­batas terpenting dalam peningkatan produksi jagung di Indonesia.Penyakit ini sangat berbahaya karena kerugian yang disebabkannya dapat mencapai 100 persen (Sudjadi 1976). Produksi jagung di Lam­pung merosot dari 114.975 ton pada tahun 1973 menjadi 18.977 ton pada tahun 1975 karena seranfan penyakit bulai. Di Jawa Tengah ke­rusakan yang disebabkannya pada tahun 1974 dan 1975 adalah 2.418 ha sedangkan di Jawa Timur kerusakan rata-rata lebih dari 2.000 ha pertahun (Subdirektorat Pemberantasan Pama dan Penyakit,.1990).
Penyakit bulai ditandai dengan warna daun tanaman muda yang mendadak menjadi bergaris-garis kuning pucat (klorosis)[1] atau bahkan putih yang kemudian menyebar ke seluruh daun. Pada serangan yang berat, seluruh tubuh tanaman berwarna kuning pucat dan kemudian mati. Penyakit ini apabila menyerang pada stadium pertumbuhan awal dapat menyebabkan 100% kegagalan panen.
Pada dikotil, serangan downy mildew dikenal memberikan gejala yang berbeda dan dikenal sebagai penyakit embun.

Patogen
Penyebab bulai yang umum pada jagung di Indonesia ada­lah Peronosclerospora maydis di Pulau Jawa dan Pulau Madura) dan P. philippinensis di Pulau Sulawesi. P. philippinensis juga menyebar di berbagai penjuru dunia. Protista mirip cendawan tetapi berkerabat lebih dekat dengan alga ini bersifat parasit obligat (wajib). Alat perbanyakan/penyebaran utamanya adalah spora vegetatif yang dihasilkan oleh badan yang disebut konidia (sehingga sporanya disebut juga konidiospora). Konidia dapat bertahan bertahun-tahun sebelum tumbuh kembali. Proses infeksi terjadi jika ko­nidia disebarkan dinihari sekitar pukul 02.00 - 04.00 karena sporalisasi maksimum terjadi pa­da saat itu. Infeksi dilakukan oleh konidia melalui stomata. Pada siang hari tidak terjadi infeksi karena pelepas­an konidia terhenti, diduga konidia tersebut tidak tahan terhadap ca­haya matahari. Penyebaran konidispora dilakukan oleh angin.
Gejala Penyakit Bulai
-   Tampak garis-garis putih atau kuning sejajar tulang daun dengan batas yang jelas. Warna daun tanaman muda yang mendadak menjadi bergaris-garis kuning pucat (klorosis/ khlorotik) atau bahkan putih yang kemudian menyebar ke seluruh daun. Warna putih seperti tepung pada permukaan bawah maupun atas bagian daun yang berwarna khlorotik, tampak dengan jelas pada pagi hari. Daun yang khlorotik sistemik menjadi sempit dan kaku. Pada serangan yang berat, seluruh tubuh tanaman berwarna kuning pucat dan kemudian mati. Bahkan bila infeksi sampai ke titik tumbuh maka daun yang tumbuh kemudian juga mengalami khlorotik
-    Akar terbatas perkembangannya demikian juga pertumbuhan tanaman
-   Bila masih muda terinfeksi maka tanaman tidak menghasilkan, dengan kata lain penyakit ini apabila menyerang pada stadium pertumbuhan awal dapat menyebabkan 100% kegagalan panen. Namun bila tanaman sudah dewasa yang diserang maka jumlah biji pada buah sangat berkurang, tapi masih bisa panen
-   Tanaman yang terinfeksi sistemik sejak muda di bawah umur 1 bulan biasanya mati. Gejala lainnya adalah terbentuk anakan yang berlebihan dan daun-daun menggulung dan terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan dan daun sobek-sobek.

Ekologi Penyakit Bulai
Perkembangan penyakit bulai dipengaruhi oleh kelembaban dan suhu udara. Kelembaban di atas 80%, suhu 28-30oC dan adanya embun ternyata dapat mendorong perkembangan penyakit. Peronosclerospora maydis membentuk konidia/ sporangium bulat hialin 17-23 x 27-39 mikrometer pada permukaan bawah daun, dilepaskan pada pagi hari. Infeksi ini dilakukan oleh konidia melalui stomata. Konidia ini terbentuk pada jam 1:00 s/d 2:00 pagi apabila suhu 24oC dan permukaan daun tertutup embun. Konidia yang sudah masak akan disebarkan oleh angin pada jam 2:00 s/d 3:00 pagi dan berlang-sung sampai jam 6:00 s/d 7:00 pagi. Konidia yang disebarkan oleh angin, apabila jatuh pada permukaan daun yang berembun, akan segera berkecambah.

Penyebab Penyakit Bulai
Beberapa penyebab mewabahnya penyakit bulai, antara lain adalah sebagai berikut :
1.  Penanaman varietas jagung rentan bulai
2.  Penanaman jagung berkesinambungan
3.  Efektivitas fungisida rendah akibat dosis dikurangi atau dipalsukan
4.  Tidak adanya tindakan eradikasi
5.  Adanya resistensi bulai terhadap fungisida metalaksil
6.  Peningkatan virulensi bulai terhadap tanaman inang jagung

Pengendalian Penyakit Bulai 
Dalam hal ini terdapat dua macam pengendalian yaitu pengendalian secara preventif (pencegahan) maupun pengendalian secara kuratif (penindak lanjutan). Berdasarkan kenyataan di lapangan selama ini, kedua macam pengendalian tersebut masih begitu sulit diterapkan karena adanya aspek social ekonomi dari petani/ masyarakat tani. Oleh karenanya sangat tepat bila sebelum melaksanakan hal itu perlu dimusyawarahkan dengan petani jagung agar terjadi kesepakatan bersama baru kemudian monitoring perlu dilakukan sebelum penanaman serempak. Dengan menerapkan metode yang dimaksud setidaknya mampu meminimalisir serangan penyakit bulai pada tanaman jagung. 
1.      Tindakan Preventif
-     Menekan sumber inokulum dengan periode bebas tanaman jagung
-     Penanaman serempak pada areal luas
-     Menanam varietas jagung tahan bulai yang tentunya berlabel (sertifikasi)
-     Melakukan seed threatment pada benih sebelum ditanam
-     Melakukan pergiliran tanaman
2.      Tindakan Kuratif
-     Eradikasi tanaman jagung terkena bulai

Konklusi

Pengelolaan tanaman secara terpadu merupakan salah satu cara meningkatkan produktivitas dan daya saing hasil. Terpadu di sini terkait erat dengan istilah manajemen. Penerapannya sebaiknya pada kelompok tani sehamparan dalam satu jaringan irigasi, yang mana untuk keberhasilannya diperlukan penguatan kelembagaan kelompok tani. Dengan adanya suatu kelompok maka segala sesuatu bisa dimusyawarahkan bersama dengan mencapai kata mufakat.
Manajemen yang sarat dengan peraturan-peraturan sangat tepat diterapkan dalam kelompok tani. Di samping mampu meningkatkan sumberdaya manusia juga sebagai alat untuk menanggulangi segala permasalahan yang muncul supaya mampu ditarik solusi bersama yang membawa manfaat 
Penyakit bulai pada tanaman jagung merupakan masalah klasik yang seakan tidak pernah ada solusinya. Terdapat beberapa solusi, namun perlu pemahaman yang baik dalam menanggulanginya karena adanya pengaruh yang kuat dari aspek social ekonomi masyarakat tani. Tindakan preventif maupun kuratif adalah salah satu solusi dalam menanggulangi penyakit bulai pada tanaman jagung, yang termasuk dalam wadah praktis manajemen pertanian dalam organisasi kelompok tani. Manakala hal tersebut dicanangkan secara kompak dan sungguh-sungguh maka diharapkan produksi maupun produktivitas tanaman jagung bisa dicapai dengan baik.



0 komentar:

Posting Komentar